Menanggapi Perilaku Irasional Balita

“Indonesia’s most trusted source for lowest prices for baby brands”
Open Reseller! Shoppe:RyanGrosirOnline / Toped:Ryan Club Grosir Online / Insta:ryanbabywear ______________________________________________

Tentunya anak balita pernah menuntut keinginan mereka untuk dipenuhi. Misalnya, ketika mereka ingin tetap bermain walaupun sudah waktunya tidur, menolak makan makanan yang mereka tidak suka, atau bahkan melempar mangkuk makanan mereka hanya dikarenakan mereka ingin mangkuk warna merah dan bukan biru. Jika Anda pernah mengalami hal yang mirip, Anda tidaklah sendiri. Selamat datang di dunia perilaku irasional balita.

Memang tampak menjengkelkan, tetapi jika dilihat melalui sudut pandang anak dan melalui lensa perkembangan, perilaku ini adalah sangat normal dan bahkan merupakan sebuah tahap yang harus dicapai. Insiden ini tidak perlu ditakuti karena ini adalah kesempatan untuk mengajari anak-anak mengelola emosi mereka dan mengatasi rasa frustasi atau kecewa.

Berikut adalah beberapa faktor penting yang mempengaruhi perilaku anak kecil yang berguna untuk diingat ketika berhadapan dengan perilaku mereka yang menantang:

1) Anak kecil digerakkan oleh emosi, bukan logika, sehingga perilaku irasional adalah hal normal yang tidak bisa dihindari. Bagian otak yang mengendalikan emosi dan tindakan—yang memungkinkan kita untuk berpikir, merencanakan, dan menyelesaikan masalah—tidak mulai berkembang hingga mendekati usia 3 tahun. Kebanyakan anak tidak dapat secara konsisten mengatur diri hingga usia 5 atau 6 tahun; meskipun demikian, kita sebagai orang dewasa pun sering kesulitan dalam mengatur emosi.

2) Balita menjadi semakin sadar bahwa mereka adalah makhluk independen—bahwa mereka dapat memiliki pemikiran dan perasaan yang berbeda dari orang lain. Ini berarti bahwa ketika mereka ingin tidur di tempat tidur Anda, mereka tahu ini bukan yang Anda pikirkan. Pencapaian kognitif baru ini, ditambah dengan dorongan keinginan balita untuk melakukan kontrol atas dunia mereka, mengarah pada upaya keras si balita untuk membuat Anda mengerti cara berpikir mereka. Mereka sangat pintar dan akan mencoba taktik apa saja yang mereka miliki (memanggil nama Anda, mengancam untuk tidak ingin tidur, atau membuat ulah seperti melempar barang) untuk memperoleh hal yang mereka inginkan.

3) Balita memiliki perasaan yang kuat tetapi sedikit kemampuan untuk mengelolanya di usia muda ini. Coba kita pikirkan—banyak orang dewasa yang juga masih berusaha untuk menyadari perasaan mereka dan memilih untuk menindakinya dengan cara yang sehat.

Jadi, apa yang harus dilakukan orang tua?

  • Tetap terkendali saat anak Anda di luar kendali. Mengelola emosi dan reaksi Anda adalah salah satu cara pengasuhan terpenting yang Anda inginkan. Ketika orang tua menjadi reaktif dan emosional, hal itu cenderung meningkatkan kekesalan anak dan mereka akan semakin intens untuk merebut kekuasaan dari Anda. Ketika anak Anda kehilangan kendali, dia membutuhkan Anda untuk tetap tenang dan rasional.
  • Ingatlah bahwa Anda sebenarnya tidak bisa membuat anak Anda melakukan apapun—makan, tidur, buang air kecil, buang air besar, bicara, atau berhenti mengamuk. Apa yang Anda kendalikan adalah bagaimana Anda merespons tindakan anak Anda, karena inilah yang memandu dan membentuk perilaku mereka. Jika mengamuk menghasilkan apa yang mereka inginkan, atau hanya mendapatkan lebih banyak perhatian, anak Anda akan berpikir itu adalah hal yang bagus untuk dilakukan. Ini bukan manipulasi melainkan perhitungan yang cerdas, dan hal ini berarti Anda membesarkan anak yang benar-benar kompeten. Dia mencari tahu cara-cara sukses untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, yang merupakan hal luar biasa. Tugas kita adalah mengajarkan anak-anak kita strategi mana yang efektif dan mana yang tidak.
  • Tunjukkan empati dan akui perasaan mereka. “Ibu tahu kaos biru adalah favoritmu dan kamu kecewa kamu tidak bisa memakainya hari ini, tapi kaos itu sedang dicuci”. Bukan perasaan anak yang menjadi masalah, tapi bagaimana mereka menindaklanjutinya yang bisa bermasalah. Semakin Anda mengakui dan menunjukkan Anda mengerti perasaan mereka, semakin kecil kemungkinan anak akan bertindak di luar kendali ketika sedang emosi.
  • Tetapkan batas dan berikan pilihan yang dapat diterima. “Pilihanmu hari ini adalah kaos merah atau kuning.” Jika anak Anda menolak pilihan yang Anda tentukan, maka biarkan anak Anda tahu bahwa Anda yang akan membuat pilihan. Sang anak mungkin akan marah, dan yang Anda harus lakukan adalah tetap tenang ketika memakaikan kaos padanya dan tinggalkan anak Anda sesudah itu sehingga dia mengalami konsekuensi dari tindakannya. Hal inilah yang pada akhirnya menjadikan anak belajar membuat keputusan yang baik—dengan mengalami hasil dari pilihan mereka dan menilai keputusan mana yang membuat mereka mendapat apa yang mereka inginkan dan mana yang tidak.

Jika kemarahan sang anak membuat Anda mengeluarkan baju biru itu dari mesin cuci atau memberikan yang mereka inginkan, Anda: 1) memberinya harapan keliru bahwa ia akan mendapatkan semua yang diinginkannya, membuatnya lebih sulit baginya untuk belajar menjadi fleksibel dan menerima alternatif; 2) mengirim pesan kepadanya bahwa kemarahan atau penolakan untuk mengikuti kemauan Anda adalah strategi yang berhasil, yang secara alami akan terus ia andalkan; dan 3) membuat anak tidak berpikir dia bisa mengatasi kekecewaan, dan bahwa dia memang bisa bertahan dengan mengenakan baju yang berbeda—membangun fleksibilitas dan keterampilan beradaptasi yang penting.

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *