Membantu Anak Mengungkapkan Kemarahan Tanpa Berlaku Kasar

“Indonesia’s most trusted source for lowest prices for baby brands”
Open Reseller! Shoppe:RyanGrosirOnline / Toped:Ryan Club Grosir Online / Insta:ryanbabywear ______________________________________________

Bagi Anda yang memiliki anak lebih dari satu, tentunya mereka akan sering bermain bersama dengan saudara mereka. Namun sayangnya, pertengkaran yang akan terjadi di antara mereka pun tentunya tidak terelakkan. Si adik bisa saja marah karena kakaknya tidak mau berbagi atau mengalah, atau mungkin sang kakak marah karena adiknya merusak barangnya secara tidak sengaja.

Ketika anak Anda marah, mereka bisa mulai memukul, menggigit, melempar, atau melakukan tindakan fisik lainnya karena mereka merasa marah. Memang terasa menjengkelkan ketika anak-anak kita bertindak secara fisik, namun perlu kita ketahui bahwa hal itu juga normal. Anak kecil yang merasa marah, takut, atau frustrasi, tetapi memiliki keterbatasan dalam bahasa yang terbatas akan menyebabkan mereka menggunakan tubuh mereka untuk mengekspresikan diri.

Bagian penting dalam mengasuh anak adalah membantu anak-anak kita memahami emosi mereka dan kemudian merespons dengan cara yang tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Kita Boleh Merasa Marah

Setiap orang pernah menjadi marah, sedih, dan terkadang takut—dan itu adalah pesan penting untuk dipelajari anak-anak! Anda boleh merasakan apa yang Anda rasakan dan Anda tidak salah karenanya, namun kita tidak boleh menyakiti orang lain. Bahasa “boleh” dan “tidak boleh” itu mudah dimengerti anak-anak. Itu adalah pesan yang jelas dan mengajarkan, namun tidak mempermalukan mereka atau meremehkan mereka ketika mereka melakukan kesalahan. Sebagai contoh:

“Kamu boleh merasa marah karena menara balokmu jatuh, tapi kamu tidak boleh melempar balok.”

“Kamu boleh merasa frustrasi pada kakak, tapi kamu tidak boleh memukulnya.”

Tekankan bahwa merasa marah itu tidak apa-apa dan merupakan hal yang wajar, namun mereka tidak boleh menyakiti orang lain karenanya.

Tawarkan Alternatif Sehat

Ada saran dari seorang guru prasekolah yang brilian: alih-alih mengatakan “Jangan lari di aula,” beri tahu anak-anak untuk “Berjalan dengan kaki tikus yang tenang” atau “Ayo berjalan dengan berjinjit pelan-pelan sampai ke ruang makan siang”. Daripada memberi mereka instruksi dengan kata “jangan”, dia memberi mereka alternatif yang menarik!

Jika kita hanya memberi tahu anak-anak untuk “berhenti memukul”, itu tidak akan membantu mereka meredakan perasaan tidak nyaman di dada mereka. Maka dari itu, kita perlu memberi alternatif yang sehat. Dengan waktu dan latihan, kita dapat mengajarkan mereka seperti:

  • Menggunakan kata-kata mereka untuk mengatakan perasaan mereka
  • Meminta bantuan orang dewasa ketika mereka tidak tahu harus berbuat apa
  • Menggunakan latihan pernapasan dalam untuk menenangkan tubuh mereka
  • Membangun otot-otot “kesabaran” mereka dengan menyanyi, menghitung, atau membayangkan sambil menunggu giliran

Berlatih Dan Mengajari Empati

Ketika anak-anak menggigit, memukul, atau menendang seseorang, itu adalah kesempatan yang baik untuk membantu mereka membangun empati mereka. Empati adalah kemampuan untuk merasakan bagaimana berada di posisi orang lain. Kita membayangkan bagaimana perasaan orang lain dan merespons dengan sikap peduli. Setelah perasaan menjadi lebih tenang, percakapan berbasis empati dapat terdengar seperti ini:

“Ingat pagi ini ketika kamu marah dan menendang temanmu. Adakah yang pernah menendangmu? Bagaimana rasanya? Bayangkan bagaimana perasaan temanmu. Apa yang nanti kamu lakukan saat kamu marah lagi?”

Sebagai orang tua, kita dapat berlatih empati dengan memperhatikan faktor-faktor yang berperan dalam respons anak-anak yang agresif: Apakah mereka lapar? Lelah? Iri dengan mainan baru teman? Apakah mereka merespons karena takut atau frustrasi?

Ketika kita menanggapi perasaan dan kebutuhan anak-anak kita—bahkan ketika kita dengan tegas menghentikan perilaku mereka yang berbahaya—kita mengingatkan mereka bahwa mereka dicintai dan bahwa kita peduli untuk mengajari mereka cara agar mereka bisa menghargai orang lain.

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *